
SUKSES sesungguhnya sebuah pilihan hidup, yang merupakan hak setiap orang. SWASTIKA PRIMA berkolaborasi dengan TELKOM FLEXI memiliki komitmen menyebarkan virus entrepreneur kepada generasi muda di Jawa Timur. Berikut liputannya. ROAD TO SUCCESS adalah sebuah gerakan spektakuler yang dilakukan oleh SWASTIKA PRIMA Community College untuk menggerakkan semangat entrepreneur di kalangan generasi muda. Lembaga Pendidikan Profesi ini bekerja sama dengan Telkom Flexi berkomitmen menggelar acara Human Excellent Seminar Series di kota-kota besar di Jawa Timur. Tujuan seminar series ini adalah memberikan insipirasi dan motivasi sukses kepada para pelajar dan orang tuanya serta guru, agar mereka ini memiliki semangat entrepreneur dalam meraih cita-cita masa depannya. Sebagai Lembaga Pendidikan, Swastika Prima berkomitmen membantu mengurangi jumlah pengganguran, dengan menyelenggarakan program pendidikan profesi dan program jadi pengusaha.
Kedahsyatan program pendidikan profesi ini adalah mensyaratkan calon wisudawan harus sudah bekerja sebelum di wisuda. Sedangkan program jadi pengusaha mewajibkan para siswa harus sudah memiliki bisnis sendiri di bulan kesembilan pelatihannya. Dengan demikian melalui dua macam program ini maka dipastikan lulusan SWASTIKA PRIMA bisa menunjukkan jati diri menjadi sosok yang Sukses Luar Biasa Prima. Pembicara pada Road To Success ini adalah seorang wanita pengusaha sukses, yang juga pendiri Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA, yaitu Dra. Christine W, MM. Seminar series ini sudah dimulai pada bulan November 2008 lalu di kota Mojokerto dan Tuban yang akan dilanjutkan ke kota-kota lainnya, seperti Gresik, Lamongan, Jombang, Sidoarjo, dan Surabaya.
Dibawah naungan PT. SWASTIKA PRIMA INTERNATIONAL, maka Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA akan selalu berkomitmen untuk menyebarkan virus entrepreneur ke seluruh pelosok negeri ini.
Berlanjut dan Berkesinambungan
Generasi muda adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Itulah mengapa Swastika Prima selalu memotivasi generasi muda untuk menjadi pengusaha. Berbagai seminar yang dilakukan PT SWASTIKA PRIMA INTERNATIONAL ini merupakan upaya untuk memotivasi generasi muda mau menjadi pengusaha. Upaya tersebut dilakukan dengan menumbuhkan mental, karakter, dan kepribadian generasi muda agar menjadi generasi yang unggul, tahan banting dan percaya diri dalam menghadapi setiap tantangan sebagai bekal menjadi pengusaha. “Kami akan terus memberikan bekal dan memotivasi para pelajar dan remaja ini berlanjut dan berkesinambungan untuk meraih sukses,” ujar Christine W, yang juga pemilik beberapa usaha ini.
sumber: www.majalahwk.com
- LANGKAH-LANGKAH MENJADI ENTERPRENEUR
- 10 Tips Memulai Bisnis
- 101 Ide Bisnis
- Aspek Penting Memulai Usaha
- Aspeki tawarkan 81 paten Ada 3 mekanisme yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha
- Bisnis Kecil atau Bisnis Besar
- Bisnis Snack dan Kue
- Bisnis Waralaba
- Bisnis dari Nol Tips
- Bisnis dari Nol Tips : Bagaimana Menjalankannya Dari Strategi Hingga Goal
- ENTREPRENEURSHIP Entrepreneur menciptakan uang tanpa uang
- Jenis Bisnis Tahun 2009
- Kerajinan Limbah Hutan
- Kesalahan yang Menggagalkan Pendirian Usaha Baru
- MENGGAJI ATAU DIGAJI?
- Melakukan Pemasaran Untuk Bisnis Kecil
- Menjadi Pewirausaha Dulu Baru Mendorong Orang Untuk Berwirausaha
- Menyiapkan Rencana Bisnis
- Meraih Sukses dengan Semangat Entrepreneur
- Merintis Wirausaha
- Perajin kecil Jepara
- Rahasia Bob Sadino
- Sektor Riil
- Stimulus belum mampu pacu kinerja industri
- Sukuk Ritel Investasi Menarik di Saat Krisis
- Teknik Ampuh Promosi Unik Bisnis Internet
- Tips Membangun Website
- Tips Memulai dan Menjalankan Bisnis
- Waralaba atau Usaha Sendiri
- dari Dapur Rumah
Blog Archive
Sabtu, 20 Juni 2009
Meraih Sukses dengan Semangat Entrepreneur
Label: Meraih Sukses dengan Semangat EntrepreneurJumat, 19 Juni 2009
Pemerintah Kurang Jeli Lihat Bisnis Waralaba
Label: Bisnis Waralaba![]()
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pemerintah kurang jeli dalam melihat peluang bisnis waralaba yang sangat menjanjikan di saat krisis global ini.
Chairman National Committee on Franchise dan License Kadin Indonesia Amir Karamoy mengatakan, padahal risiko bisnis waralaba terhadap badai krisis ekonomi kecil. "Justru Malaysia yang jeli melihat peluang bisnis franchisee itu," ujar dia di Jakarta Jumat 19 Juni 2009.
Menurut dia, untuk itu pihaknya mengusulkan agar pemerintah membuat peraturan yang dapat membuat skema iklim investasi di bidang tersebut semakin bagus dan menarik terutama dengan kondisi krisis global saat ini.
Amir menuturkan, Kadin sendiri menargetkan tahun ini dengan proyeksi angka pengangguran dua juta orang akibat krisis global, seharusnya 500 ribu pekerja terserap oleh bisnis waralaba. "Selebihnya sektor lain yang menyerap," kata dia.
Dia menilai, selama ini peraturan yang sudah ada belum terlalu mendorong iklim investasi bisnisi waralaba. Selain faktor regulasi, yang membuat industri ini tersendat adalah juga karena birokrasi yang berbelit.
Disisi lain, Amir juga berharap ke depan franchisee dan franchisor yang terlibat dalam bisnis waralaba dibina agar semakin bagus dan bonafid.
"Kalau sekarang kan tidak, siapa yang sudah dapat surat tanda pendaftaran waralaba (STPW) sudah bisa jual franchise padahal tidak begitu," kata dia.
sumber: bisnis.vivanews.com
Selasa, 16 Juni 2009
Kerajinan Limbah Hutan Banyak Diminati di PRJ
Label: Kerajinan Limbah HutanJAKARTA--MI: Berbagai jenis kerajinan tangan yang terbuat dari limbah hutan dan sepuluh jenis buah-buahan asli dari Bengkulu, yang dipamerkan di Pekan Raya Jakarta (PRJ) banyak diminati pengunjung.
Souvenir dari Bumi Rafflesia itu, dalam satu hari bisa terjual di atas sepuluh unit, kata Sandi salah seorang perajin dan penjaga stand Bengkulu di PRJ, Minggu.
Setiap unit dijual dengan harga antara Rp35 ribu sampai Rp40 ribu, sedangkan modelnya sangat beragam dan menarik untuk menjadi hiasan rumah. Kerajinan berbentuk perahu lancang dan dipenuhi berbagai jenis buah-buahan hutan asli itu, dibuat menggunakan bahan serba alami, sehingga bentuknya tidak berubah.
Selasa, 16 Juni 2009 | Metro TV | Lampung Post | Borneo News | Yayasan Sukma | Kick Andy
Home
Advertisiment
* Home
* Polhukam
* Ekonomi & Bisnis
* Olahraga
* Sepak Bola
* Megapolitan
* Internasional
* Sains & Teknologi
* Humaniora
* Hiburan
* Opini
* Perempuan
* Hidup Sehat
* Tanah Air
* Otomotif
* Jalan-jalan
* Blog
* Video
* Foto
* Pustaka
* Cinema
* Politik Dalam Negeri
* Politik Luar Negeri
* Hukum
* Hankam
* Lainnya
* Ekonomi
* Bursa & Valas
* Finansial & Perbankan
* Bisnis & Investasi
* Lainnya
* Bulutangkis
* Tenis
* Basket
* F1
* Moto GP
* Tinju
* Sosok
* Lainnya
* Liga Inggris
* Liga Itali
* Liga Spanyol
* Liga Jerman
* Liga Indonesia
* Off Side
* Lainnya
* Kriminal
* Trafik
* Sosial
* Peristiwa
* Lainnya
* Berita & Peristiwa
* Lainnya
* Piranti
* Iptek
* Telekomunikasi
* Regulasi
* E Lifestyle
* Kesehatan
* Pendidikan
* Lingkungan
* Kebudayaan
* Religi
* Umum
* Musik
* TV
* Selebriti
* Agenda
Suara Anda | Layanan Umum | Kontak Media | Jadwal Hari Ini | Lowongan Kerja
Jadwal Sholat Penerbangan Kereta Api Travel + Primajasa
Polisi Pemadam Kebakaran Layanan Publik
Media Online
Iklan Sirkulasi Percetakan Production Publishing
Advertisiment
Kerajinan Limbah Hutan Banyak Diminati di PRJ
Minggu, 14 Juni 2009 17:11 WIB 0 Komentar
CETAK
KIRIM
DIGG
FACEBOOK
Buzz up!
JAKARTA--MI: Berbagai jenis kerajinan tangan yang terbuat dari limbah hutan dan sepuluh jenis buah-buahan asli dari Bengkulu, yang dipamerkan di Pekan Raya Jakarta (PRJ) banyak diminati pengunjung.
Souvenir dari Bumi Rafflesia itu, dalam satu hari bisa terjual di atas sepuluh unit, kata Sandi salah seorang perajin dan penjaga stand Bengkulu di PRJ, Minggu.
Setiap unit dijual dengan harga antara Rp35 ribu sampai Rp40 ribu, sedangkan modelnya sangat beragam dan menarik untuk menjadi hiasan rumah. Kerajinan berbentuk perahu lancang dan dipenuhi berbagai jenis buah-buahan hutan asli itu, dibuat menggunakan bahan serba alami, sehingga bentuknya tidak berubah.
Sandi mengatakan, pada pameran sekarang ini pihaknya hanya membawa sekitar 200 buah dan hari kedua ini sudah laku sekitar 40 buah dan paling banyak diminati jenis perahu dan pot dari batok kelapa.
Pembuatannya sangat rumit, karena bahan bakunya harus diawetkan agar selalu segar, proses pengawetannya memakan waktu satu minggu.
Bahan baku yang terdiri atas sepuluh jenis buah-buahan alam antara lain buah rotan sega, buah brambang lanang, buah karet, buah macang laut dan buah rumbia.
Sementara untuk jenis perahu menggunakan selondang kering kelapa yang dibungkus dengan kulit lantung (kayu terap), sehingga bentuknya mirip perahu kuno "Hang Tua".
Untuk jenis hiasan pot bahan bakunya terbuat dari batok kelapa, dipenuhi oleh jenis buah-buahan alam sehingga sangat menarik dipajang dimeja tamu.
Produk dari limbah hutan itu pasarannya sudah merambah ke seluruh nusantara dan bahkan ke Malayisia. Setiap ada pameran produk nasional, pihaknya selalu diikutkan disamping berbagai jenis makanan khas dan batik besurek Bengkulu, katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bengkulu Drs Zainal Jambak mengatakan, dalam pameran produk ini pihaknya menampilkan belasan jenis hasil industri rumah tangga termasuk kerajinan dari limbah hutan tersebut, ujarnya singkat. (Ant/OL-02)
sumber:
Dunia Nyaman Dengan Sektor Riil
Setelah hegemoni kekuatan bipolar (Amerika dan Rusia) nyaris tak tentu arah, dan sekarang hadir kekuatan multi polar , dengan adanya China dan Jepang sebagai kekuatan independen, realitas krisis finansial global tidak dapat terelakan. Stimulus ekonomi sebuah negara mendadak hangat diperbincangkan. Ya dunia saat ini sedang berubah, yang terjadi saat ini terlihat dan terasa begitu gersang. Mata sebagian bangsa-bangsa didunia “terbelalak” ternyata kapitalisme dan dominasi sektor spekulatif bukan sebuah jawaban untuk kenyamananan dan kemakmuran bumi ini.
Di Tanah Air Krisis Finansial Global berdampak pada “tsunami” Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sementara itu krisis kaum pekerja/buruh sendiri di tanah air, sudah berlangsung sejak tahun 1992, disusul tahun 1997 perusahaan banyak yang gulung tikar.
Diakui atau tidak globalisasi telah merenggut banyak korban terutama pekerja dan buruh akibat dari kalah bersaingnya industri di Tanah Air oleh produk-produk impor dari luar negeri, seperti Cina dan Amerika. Ya, lebih parah lagi setelah terjadinya Krisis Finansial Global, sehingga banyak kaum pekerja/buruh yang terkena dan terancam pemutusan hubungan Kerja (PHK) hal ini tentu menambah deretan angka-angka pengangguran di tanah air.
Lima agenda nasional untuk perbaikan Bangsa yang hangat dibicarakan dari mulai masalah kemiskinan, masalah kebodohan, masalah ketidak adilan, masalah korupsi,dan melepaskan diri dari ketergantungan asing, walau demikian berat, tetap harus dijalankan dan sifatnya mendesak. Ini tentu tetap menjadi tugas kita bersama untuk menyelesaiaknnya, tentunya dengan cara yang cergas (cerdas dan tegas). Semua ini tidak mungkin bisa diselesaikan oleh pemimpin biasa-biasa, kita memerlukan pemimpin yang luar biasa, kita memerlukan pemimpin bertenaga keras, pemimpin motivator seperti Soekarno Muda, Syahrir Muda, seperti Hugo Chavez, Evo Morales, atau mungkin seperti (mudah-mudahan)Barack Obama di AS.
Evo Morales dan Selamat Jalan Kapitalisme
Untuk melepaskan diri dari ketergantungan asing dan kapitalis tidaklah semudah membalikan telapak tangan, seberapapun besar dan kuatnya kampanye “neo sosialisme”, kampanye “ekonomi kerakyatan” yang diteriakakan partai-partai dan tokoh-tokoh yang sedang berlaga dalam pemilu 2009, tetap saja di saatnya nanti memerlukan pembuktian dan pengorbanan yang sangat luar biasa berat, sebab kapitalisme dan ketergantungan kita kepada asing, terlanjur dan tanpa disadari telah menjadi satu kesatuan dan mendominasi sampai kepada kehidupan kita yang paling pribadi dalam dalam sekali!
Sebuah catatan dalam Kongres Kaum Muda Jawa Barat 28 Oktober 2008 lalu yang mana Penulis juga berkesempatan menjadi Orator, Radhar Panca Dahana (Sastrawan, Dosen Universitas Indonesia) mengatakan kapitalisme dan materialisme saat ini adalah sebuah sistim yng mengijinkan sekelompok kecil manusia di dunia ini tidak lebih dari 0,0001% dari masyarakat didunia ini untuk meiliki kekayaan 515 Triliun Dolar, itu sama dengan 60 kali lipat PDB Amerika Serikat yang tertinggi di dunia, sama dengan 10 kali lipat dari PDB dunia, sama dengan 1000 kali lipat PDB Indonesia.
Dan kekuatan kapital itu yang telah menentukan jalannya hidup kita, jalannya di dunia, tidak hnya menentukan apa isi lemari kita, apa isi dompet kita, apa isi pikiran kita,juga menentukan siapa yang menjadi menteri keuangan kita bahkan barangkali menentukan siapa yang akan menjadi presiden kita! Demikian orasi Bung Radhar.
Kita patut terinspirasi dan coba mengacu terhadap keberanian Evo Morales dengan gerakan sosialisme-nya ( Movimiento al Socialismo) terlebih setelah memenangkan referendum Bolivia 25 Januari 2009 yang mencapai angka setuju 65 persen.
Evo Morales perlahan tapi pasti ia sadar membangun otonomi, bukannya menyerahkan nasib kepada orang, apalagi negara lain(Robert Bala, Kompas 12/2/09).
Ya, rakyat telah disadarkan dan melakukan penolakan secara aklamatif terhadap kapitalisme, kebebasan tanpa batas adalah bagai menggali kubur diri sendiri. Salah satu hal yang patut menjadi acuan dari Bolivia adalah keberanian Evo Morales berpihak pada rakyatnya, ia tidak menyandarkan nasib bangsa kepada ketidakpastian ekonomi global! Dengan tegas ia mengatakan “selamat Jalan Kapitalisme”
Kembali Ke Sektor Riil
Bagaimana dengan kita? Sudah saatnya kita juga berani meninggalkan dominasi iklim spekulatif. Jalan yang paling mungkian dan cerdas adalah kembali menguatkan sektor riil, kita tinggalkan dominasi model ekonomi yang bersifat “di atas kertas”, virtual dan “imaterial” yang oleh Tom Wolfe (1987) ditakdirkan akan hancur!
Bukankah dalam sistem ekonomi riil, dimana ada pihak memproduksi dan berdagang dengan jujur dengan tujuan untuk berkontribusi bagi kekayaan masyarakat (rakyat) secara keseluruhan. Dan secara sederhana sektor riil melakukan perputaran kekayaan yang dihasilkan dan diperdagangkan secara nyata, barang-barang dan layananan adalah nyata, dan dijual di pasar-pasar nyata dengan menggunakan mata uang nyata.
Sektor riil baik yang Informal dan Formal (prosedur akuntansi), sangatlah penting untuk diperioritaskan. Seperti kita ketahui,sektor informal, bagian dari ekonomi dimana transaksi terdiri dari perdagangan di jalanan, produksi petani skala kecil, pekerja di tingkat domestik untuk mempertahankan hidup sehari-hari, yang tidak dimasukan dalam metoda akuntasi secara resmi; sehingga tidak masuk dalam GNP/GDP. Sedangkan sektor formal, adalah dimana barang dan jasa diproduksi dan diperdagangkan, yang dibukukan dalam prosedur akuntasi resmi, merupakan bagian yang tampak dari ekonomi sektor riil, sehingga masuk dalam GNP/GDP.
Sektor riil-lah yang menggerakan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya, yang tidak manipulatif dan lebih fair terhadap para pelaku dan masyarakat pada umumnya. Tentu dalam menjalankan sektor riil tersebut, diperlukan sistem atau perangkat penunjang, sehingga mekanisme sektor riil tersebut dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Misalkan Sektor permodalan, perdagangan, dll.
Sepintas, tidak ada yang salah system penunjang tersebut, memang secara konseptual diperlukan, tetapi dimana letak permasalahannya?
Pertama, sektor penunjang tersebut tidak konsisten berperan sebagai penunjang semata; tetapi yang lebih dominan mereka seolah-olah sistem terpisah, yang menjadi bisnis yang berdiri sendiri. Misalkan, jual beli saham yang bersifat spekulatif, perdagangan mata uang (valas), dll.
Kedua, sektor penunjang atau jasa, karena sesuatu hal, apakah karena regulasi, hukum supply-demand, dsb, cenderung mendapatkan bagian keuntungan yang berlebih dibanding sektor-sektor yang benar-benar menghasilkan produk riil.
Akibat dari masalah di atas, kesenjangan antara sektor riil dan non riil adalah sudah sangat besar, bahkan sekarang ini diperkirakan kapitalisasi dalam sektor riil hanya 1/10 dari sector non riil. Dampak selanjutnya adalah, bahwa sektor non riil akan mudah mendikte keberadaan sektor riil, yang pada akhirnya akan berdampak kepada stabilitas masyarakat termasuk Negara.
Data dari United Nation Development Programme(UNDP:1960-1995) menggambarkan dampak yang nyata dari permasalahan di atas yaitu berupa kesenjangan kekayaan dalam suatu Negara semakin lama semakin lebar, begitu juga kesenjangan anatara Negara kaya dan miskin juga semakin melebar. Kita lihat data sebagai berikut :
Pertama, perbedaan GNP (Gross National Product) antara Negara dengan kekayaan terbesar kelima di dunia dibanding Negara dengan kemiskinan terbesar kelima makin melebar yakni pada tahun 1960 adalah 30 : 1, tahun 1990 adalah 60 : 1 dan pada tahun 1995 adalah 74 : 1.
Kedua, masyarakat yang tinggal di Negara-negara dengan pendapatan tertinggi kelima memiliki 86% dari GDP dunia, sementara itu lapisan terbawah kelima hanya menerima 1%.
Ketiga, separuh dari penduduk dunia hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 2 perhari.
Disamping itu, karakteristik sektor riil pada dasarnya menghendaki lingkungan yang cenderung stabil, tetapi sektor penunjang yang sudah berubah fungsi kearah spekulatif, bisa hidup kalau lingkungan yang tidak stabil.Pada awalnya mereka bermain dalam ketidakstabilan, artinya mengikuti pergerakan dari perubahan-perubahan tersebut; tetapi patut dicurigai bahwa mereka terutama pemain utama “Sang Bandar”, ketidakstabilan itulah yang mereka berusaha untuk mengaturnya.
Nah di sinilah letak benang kusutnya yan benar-benar khusut!Mengapa? Karena dalam permainan yang spekulatif seperti ini, ilmunya sederhana yakni beli pada saat harga rendah dan jual pada saat harga tinggi. Sehingga “sang Bandar “ akan berusaha mengendalikan kapan harga tinggi dan kapan harga rendah, sehingga dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat tinggi.
Caranya, dengan memanfaatkan faktor-faktor termasuk pemainnya yang berfungsi menggerakan harga yang ke positip (naik) dan dan factor-faktor termasuk pemainnya yang berfungsi menggerakan harga yang ke negatif (turun). Bahkan, yang dimanfaatkan tersebut bisa-bisa tidak menyadari keberadaannya, kalau sedang dimanfaatkan dalam permainan “sang Bandar”.
Tidak tertutup kemungkinan, konflik atau perang dll, masuk dalam kendali perhitungan “Sang Bandar”, yang dimanfaatkan sebagai salah satu mesin penggerak permainan mereka. Nah, kalau sudah gamblang seperti ini, apa yang harus kita lakukan?
Idealnya adalah berusaha semaksimal mungkin menghindar untuk tidak masuk dalam permainan mereka.Memang berat, dikarenakan kita sudah termakan propaganda mereka bahwa negara yang mau maju harus ikut mereka, bahkan bisa jadi elit-elit tertentu mendapatkan keuntungan besar dari permainan mereka, atau mencari jalan baru dengan semangat kemandirian dan kesederhanaan, maukah kita?Dalam hal ini, semua pihak terutama pemerintah tentu sangat bertanggungjawab dan wajib, untuk lebih memfokuskan kepada pergerakan ekonomi masyarakat lewat sektor riil, agar dunia tidak terus menerus menjadi gersang!
Penulis, Dosen Ilmu Ekonomi & Finansial Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Telkom dan Ketua Forum Komunikasi Sosial Merah Putih Bersatu.
source:
Sabtu, 13 Juni 2009
LANGKAH-LANGKAH MENJADI ENTERPRENEUR
Label: LANGKAH-LANGKAH MENJADI ENTERPRENEUR1. CARI PENGALAMAN
Yang paling utama adalah pengalaman untuk “Melek Finansial”
2. MEMBANGUN WINNING TEAM
• Melek finansial = financial literacy adalah senjata utama dalam kepemilikan bisnis.
• Pengalaman dalam salah satu mata rantai bisnis saja.
3. MEMBUAT PERENCANAAN BISNIS YANG JITU DAN DETAIL
• Bussiness plan yang baik adalah tertulis.
• Bussiness plan bersifat solid sehingga memudahkan komunikasi dan menjadi referensi semua anggota tim untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
• Bussiness plan harus menyeluruh meliputi market data dan tes yang menunjukkan bahwa produk yang dijual bersifat menjual, skil-skil utama sebagi pengenerate profit, estimasi cost startup, proyeksi sales dan profit, analisisbreak-even and goal long-term perusahaan.
4. MEMBANGUN SISTEM KEUANGAN
• Berpartner dengan orang lain dalam rangka mengisi gap/bagian yang kita kurang tau/kurang ahli sehingga dapat saling berkomplemen.
• Pelajari baik-baik prinsip memilih partner bekerja (partner bisnis/karyawan), salah pilih bisa membuat bisnis berantakan.
5. MELAWAN KEKURANGAN PENGALAMAN DENGAN MENCAPAI INFORMASI ADVISI YANG BENAR DAN TEPAT
• Rajin mencari informasi dengan banyak membaca buku, majalah koran, internet atau secara formal mengambil kursus, training, masuk sekolah bisnis, dll.
• Aktif dalam organisasi pengusaha sejenis dan kegiatan yang berkaitan dengan bisnis yang ditekuni.
• Jika memerlukan advisi yang memiliki nilai risk/reward yang signifikan terhadap bisnis yang dimiliki dimintakan pada ahlinya, artinya berani bertanya dan berani membayar.
• Bisnis memerlukan uang untuk menjamin kelangsungan bisnis itu sendiri.
• Bila belum memiliki record memperoleh kredit dari institusi keuangan maka jawabannya adalah menjual rencana tersebut dan memiliki kepercayaan agar mendapatkan bantuan keuangan dari keluarga atau relasi terdekat. Perjanjian harus diatur sehingga pembayaran kembali jelas jumlah dan tanggalnya, juga jelas bagaimana budget pokok dan bunganya (bagi hasilnya)
6. FOKUS PADA GOAL, PRIORITAS PADA GOAL FINANCIAL
• Bersiaplah dalam 6 bulan ke depan kita harus bisa mencukupi kebutuhan hidup, karena tidak ada yang menggaji kita, justru kita harus menggaji asisten yang membantu. Hal ini sangat lazim saat membangun bisnis.
• Secara periode membandingkan catatan keuangan dengan plan yang dibuat dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Harus diingat, kita sendiri yang membuat peraturan, maka agar peraturan tersebut bisa berjalan dan melancarkan bisnis, make sure kita adalah orang terdepan yang mengamalkannya, jika tidak kita menjadi contoh untuk mengingkari peraturan yang notabene kita buat dan tetapkan sendiri.
• Fokus pada tujuan bisnis sejak awal. Salah satu faktor kegagalan terbesar adalah tidak fokus pada bisnis yang telah ditetapkan.
• Goal tahun pertama adalah memenuhi/melebihi target profit dan cashflow serta membangun hubungan dengan pelangan, akan lebih baik lagi bila sudah mulai memiliki pelanggan loyal.
LANGKAH-LANGKAH MENJADI ENTERPRENEUR
1. CARI PENGALAMAN
Yang paling utama adalah pengalaman untuk “Melek Finansial”
2. MEMBANGUN WINNING TEAM
• Melek finansial = financial literacy adalah senjata utama dalam kepemilikan bisnis.
• Pengalaman dalam salah satu mata rantai bisnis saja.
3. MEMBUAT PERENCANAAN BISNIS YANG JITU DAN DETAIL
• Bussiness plan yang baik adalah tertulis.
• Bussiness plan bersifat solid sehingga memudahkan komunikasi dan menjadi referensi semua anggota tim untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
• Bussiness plan harus menyeluruh meliputi market data dan tes yang menunjukkan bahwa produk yang dijual bersifat menjual, skil-skil utama sebagi pengenerate profit, estimasi cost startup, proyeksi sales dan profit, analisisbreak-even and goal long-term perusahaan.
4. MEMBANGUN SISTEM KEUANGAN
• Berpartner dengan orang lain dalam rangka mengisi gap/bagian yang kita kurang tau/kurang ahli sehingga dapat saling berkomplemen.
• Pelajari baik-baik prinsip memilih partner bekerja (partner bisnis/karyawan), salah pilih bisa membuat bisnis berantakan.
5. MELAWAN KEKURANGAN PENGALAMAN DENGAN MENCAPAI INFORMASI ADVISI YANG BENAR DAN TEPAT
• Rajin mencari informasi dengan banyak membaca buku, majalah koran, internet atau secara formal mengambil kursus, training, masuk sekolah bisnis, dll.
• Aktif dalam organisasi pengusaha sejenis dan kegiatan yang berkaitan dengan bisnis yang ditekuni.
• Jika memerlukan advisi yang memiliki nilai risk/reward yang signifikan terhadap bisnis yang dimiliki dimintakan pada ahlinya, artinya berani bertanya dan berani membayar.
• Bisnis memerlukan uang untuk menjamin kelangsungan bisnis itu sendiri.
• Bila belum memiliki record memperoleh kredit dari institusi keuangan maka jawabannya adalah menjual rencana tersebut dan memiliki kepercayaan agar mendapatkan bantuan keuangan dari keluarga atau relasi terdekat. Perjanjian harus diatur sehingga pembayaran kembali jelas jumlah dan tanggalnya, juga jelas bagaimana budget pokok dan bunganya (bagi hasilnya)
6. FOKUS PADA GOAL, PRIORITAS PADA GOAL FINANCIAL
• Bersiaplah dalam 6 bulan ke depan kita harus bisa mencukupi kebutuhan hidup, karena tidak ada yang menggaji kita, justru kita harus menggaji asisten yang membantu. Hal ini sangat lazim saat membangun bisnis.
• Secara periode membandingkan catatan keuangan dengan plan yang dibuat dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Harus diingat, kita sendiri yang membuat peraturan, maka agar peraturan tersebut bisa berjalan dan melancarkan bisnis, make sure kita adalah orang terdepan yang mengamalkannya, jika tidak kita menjadi contoh untuk mengingkari peraturan yang notabene kita buat dan tetapkan sendiri.
• Fokus pada tujuan bisnis sejak awal. Salah satu faktor kegagalan terbesar adalah tidak fokus pada bisnis yang telah ditetapkan.
• Goal tahun pertama adalah memenuhi/melebihi target profit dan cashflow serta membangun hubungan dengan pelangan, akan lebih baik lagi bila sudah mulai memiliki pelanggan loyal.
Jumat, 12 Juni 2009
APA YANG KITA INGINKAN, MENGGAJI ATAU DIGAJI?
Label: MENGGAJI ATAU DIGAJI?Gaji adalah suatu bentuk pembayaran periodik dari seorang majikan pada karyawannya yang dinyatakan dalam suatu kontrak kerja. Dalam persepsi lain, gaji adalah bentuk penghargaan atas sebuah karya. Setiap orang pastilah menginginkan untuk memperoleh penghasilan yang besar dari usahanya, tetapi pada kenyataannya banyak orang sulit untuk merelisasikan keinginannya tersebut. Ketakutan akan kegagalan banyak menghantui disaat kita ingin meraih impian tersebut. Hal ini lah yang menjadikan seseorang sulit berkembang dan mendapatkan keberhasilan dalam berusaha. Untuk mengatasi hal-hal tersebut kita dapat mengatasinya dengan berbagai cara seperti dibawah ini.
TUJUH KIAT SUKSES
1. Orang sukses mau mengambil resiko.
2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia.
3. Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
4. Orang sukses adalah pelajar seumur hidup.
5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain.
6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain.
7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses.
Hanya karena jalan itu termudah dilampaui bukan berarti jalan itu adalah yang terbaik. Jalan menuju hasil yang besar selalu berbatu dan berjurang curam. Untuk itu dibutuhkan, seperti dikatakan sebelumnya:
• Keberanian mengambil resiko
• Kreatifitas membaca faktor-faktor resiko
• Acuhkan godaan bahwa jalan yang satu lagi lebih nyaman dilalui
Kesuksesan bukanlah mengacu pada hasil, melainkan proses. Kepribadian sukses tidak berhubungan dengan modal usaha, jenis usaha, bahkan jumlah uang. Kepribadian sukses terletak pada integritas, kejujuran, kegigihan, kecerdasan mental, dan keberanian seseorang. Slamat mencoba, semoga sukses selalu dan yakinlah anda pasti bisa.
